Kendari1234.com-Tak ada yang menyangka, jika akhirnya Nur Alam
memilih meninggalkan Partai amanat Nasional (PAN), partai yang sudah
bersusah payah dibangunnya belasan tahun silam itu. Meski dengan berat
hati, Nur Alam sebagai tokoh sentral di partai harus legowo memberi
kesempatan pada kader-kader PAN lainnya. Selain karena amanah AD/ART
partai, Nur Alam tentu tidak ingin meninggalkan “noktah merah” di karir
politiknya. Namun, seperti proyeksi banyak pengamat, bahwa, cukup sulit
mencari figure yang bisa menyamai keuletan Nur Alam dalam mengelola
manajemen organisasi.
Dan harus diakui, hingga kini, belum ada yang
dapat menyamai rekor prestasi Nur Alam menggawangi partai politik di
daerah Sultra maupun di daerah lain di Indonesia.
Sebagai gambaran, mengulik masa lalu, sejak lama, figure Nur Alam
sudah sangat diperhitungkan dalam dunia politik Sulawesi Tenggara. Ia
mulai berkiprah dari organisasi BMATMS (Badan Musyawarah Antar Tokoh
Masyarakat Sultra) yang didirikan tahun 1996 oleh sejumlah tokoh
masyarakat Sultra. Lalu dipercaya dipercaya menjadi Sekretaris Umum DPW
PAN Sultra mendampingi Andre Djufri (mantan Bupati Kendari), lalu pada
tanggal 27 Juli tahun 2000 terpilih menjadi Ketua DPW PAN dan berhasil
meraih 119 dukungan dari 214 pemilih, mengalahkan pesaingnya Arbab
Paproeka yang hanya memperoleh 91 suara.
Kepiawaian Nur Alam berpolitik memang tak lagi diragukan setelah
berhasil membawa PAN menjadi pemenang Pemilu legislatif kedua di
Sulawesi Tenggara, setelah Partai Golkar di Pemilu legislatif tahun
2004. Kemenangan itu membawa Nur Alam duduk menjadi Wakil Ketua DPRD
Sultra. Pada Pemilu 2009 PAN di Sultra kembali mempertahankan posisi
kedua setelah Partai Golkar. Atas keberhasilan itu, jajaran pengurus
kembali mendaulat Nurt Alam menakhodai kepemimpinan DPW PAN saat Muswil
PAN tahun 2005. Pria kelahiran Konda Kabupaten Konawe Selatan itu
terpilih secara aklamasi dua kali berturut-turut termasuk Muswil PAN
tahun 2010 lalu.
Karier politik Nur Alam semakin kinclong ketika bertarung di
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Provinsi Sultra tahun 2007 silam. Nur
Alam berhasil memenangkan pertarungan dengan meraup 42,78 persen suara
mengalahkan Ali Mazi yang kala itu sebagai incumbent. Nur Alam resmi
memimpin Sultra setelah dilantik oleh Mendagri tanggal 18 Februari 2008.
Dan kembali memenangkan pilkada Sultra 2012 untuk masa jabatan tahun
2013-2018. Dalam menakhodai PAN pada pemilu legislative PAN meraih suara
terbanyak dan berhasil mengambil nakhoda Ketua DPRD Sultra. Tak hanya
berhasil di Pilkada Provinsi, dan Pemilu Legislatif , masa kepemimpinan
Nur Alam juga berhasil memenangkan 9 kepala daerah Kabupaten/Kota di
Sultra melalui pintu PAN.
Masalahnya, sepeninggal Nur Alam mampukah Partai Berlambang Matahari
itu mempertahankan prestasi seperti yang sudah ditoreh selama ini?
SK/FN
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

0 komentar:
Posting Komentar